Monday, August 22, 2005

angkringan 'sega kucing' Yogya

Rasanya masih terasa asyik, bagaimana membayangkan sega kucing yang nasinya cuman sedikit, dibungkus daun & kertas koran dengan lauknya yang sangat sederhana. Hhmmm... secara porsi emang sedikit banget, makanya kalau makan mesti 3 sampai 4 bungkus. Gak ada yang istimewa sebenarnya kecuali nuansa cangkruk'an ala Yogya. Sega kucing terasa berat dengan makna & kenangan bersama teman-teman dan pedagang 'angkringan' di Yogya. Kangen aku karo Giwok lan Yogya-ne!

----------
Politik Angkringan dari Yogya

SAGAN di pagi hari adalah aroma harum bumbu-bumbu masakan khas Jawa. Kampung di sisi timur Galeria Mall-salah satu pangkalan pedagang nasi angkringan di Yogyakarta-itu, sejak pukul 05.00 sudah mulai sibuk luar biasa.

DI SEBUAH rumah, Tukiyah mulai menanak nasi, sedangkan familinya, Suprihatin Mursih, menggoreng pisang, tahu tempe bacem, gorengan wader, bihun pedas, kering tempe, serta penganan lainnya. Siti Wahyuni menyiapkan daun dan kertas koran untuk membungkus nasi sambal teri, oseng-oseng buncis di sebuah dapur yang sempit.

Sukarman (42), sang juragan dan istrinya, Murtini (47), tak kalah sibuk. Keduanya sibuk menimbang gula pasir dan gula merah, menyiapkan teh, kopi, susu, dan bongkahan jahe yang akan dibagikan kepada 30 "anak buah" mereka.

Di lantai dua, kira-kira delapan pedagang angkringan masih telentang atau tengkurap mendengkur kecapaian, setelah semalaman begadang. Para penjaja angkringan, biasa juga disebut penjaja "nasi kucing" itu masih terlelap. Mereka tidur di dua kamar yang masing-masing berukuran 3 x 3 meter, yang disediakan Sukarman. Disebut penjaja angkringan karena cara mereka menjajakan, menggunakan gerobak khas yang bernama angkring. Sementara sebutan nasi kucing atau sego kucing karena guyonan pahit: porsi nasinya kira-kira hanya tiga kali suapan, dengan pasangan lauk berupa sambal ikan teri seperti makanan untuk kucing.

Di kamar loteng itu, hanya ada tumpukan kardus tempat menyimpan pakaian, dan tikar untuk alas tidur. "Mereka tidur bergiliran. Kan, ada yang mulai dagang malam, ada yang pagi. Jadi, kamar itu cukup untuk istirahat semuanya," kata Sukarman.

Kesibukan itu juga ditemui di sejumlah markas angkringan lainnya di Yogya, seperti di Kampung Blimbingsari, Demangan, Sosromenduran, Banguntapan, Demakan Baru, dan Kampung Patangpuluhan.

MEREKA adalah pengusung tradisi desa ke tengah gemerlap kota. Itulah para pedagang angkringan, warung makan dan jajanan murah yang menurut sejarahnya berasal dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jumlah mereka di Yogyakarta diperkirakan tak kurang dari 1.500 orang. Dari Klaten, mereka menjadi bagian tak terpisahkan dalam perkembangan Yogyakarta. Bahkan, sejumlah kalangan seniman di Yogya menilai, jika Yogyakarta adalah Indonesia mini yang plural, maka angkringan adalah Yogya mini.

Dalam tuturan para keluarga pengangkring, ingatan sejarah angkringan dimulai dari sosok Mbah Pairo. Lelaki asal Cawas, Klaten, itu di tahun 1950-an mengusung dua pikulan ting-ting hik ke Yogya, dan menggelar dagangannya di emplasemen Stasiun Tugu Yogya. Mbah Pairo, dengan teriakan, "..Iyeeek.!!!," dianggap sebagai generasi pertama penjaja angkringan di Yogya.

Sekitar tahun 1969, dagangan itu diwariskan Mbah Pairo kepada Siswo Raharjo (53), putranya. Setahun kemudian, Siswo Raharjo, yang biasa dipanggil Lik Man (diambil dari nama kecilnya: Siman) memindahkan dagangannya ke depan stasiun, dan lima tahun kemudian pindah lagi di Jalan Bumijo, persis di sebelah utara Stasiun Tugu.

Di tangan Lik Man inilah, angkringan mencapai kesuburannya, dan menjadi bagian dari legenda, kota tua Yogya. Seniman-seniman Yogya, seperti Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Emha Ainun Nadjib, Bondan Nusantara, dan Marwoto, pernah menghabiskan malam di angkringan Lik Man.

Kini tidak sulit menemukan angkringan di Yogya karena hampir di tiap ujung gang kota, bisa ditemukan angkringan. Jumlah total angkringan di Yogya diperkirakan lebih dari 1.000 buah, dengan 1.200-an pedagang, serta lebih dari 30.000 warga kampung penyuplai makanan di kantong-kantong angkringan itu.

Memang, hidangan yang disajikan tidak sama kompletnya antar-angkringan. Yang jelas, angkringan mudah dikenali karena tetap dengan ciri khasnya, yaitu gerobak kayu, makanan-minuman rumahan yang murah, dan tiga buah ceret. Tak bisa dijelaskan, mengapa harus tiga. Maka, anak muda Yogya mempelesetkannya "Kafe Ceret Telu".

Selain menu-menu standar seperti "sego kucing" dengan lauk sambal ikan teri atau oseng-oseng buncis atau tempe, nasi kuning, kepala ayam bacem, ceker ayam, tempe goreng, sate usus, telur puyuh, ramuan teh jahe, susu jahe, dan kopi jahe, tidak jarang pengelola angkringan menyuguhkan menu lain yang khas. Kopi joss misalnya, bisa kita temukan di warung angkringan Lik Man. Teh Poci bisa kita temukan di warung angkringan Lik Min di sebelah selatan SMK 1 Bantul Jalan Bugisan. Aneka gorengan renyah, bisa ditemukan di angkringan Depan Gereja Banteng, Jalan Kaliurang Km 8.

Bahkan di sejumlah angkringan, kita juga bisa memesan pisang dan roti bakar, mi rebus atau goreng, baik dengan maupun tanpa telur sesuai selera kita, tentunya dengan harga yang variatif. Tapi jangan khawatir, harganya tetap terjangkau. Untuk makan sepuasnya, paling banter kita hanya perlu merogoh kocek Rp 5.000.

Selain murah, suasana santai di angkringan adalah daya tarik utama. Di angkringan orang boleh makan sambil tiduran, sambil mengangkat kaki, teriak, atau mengeluarkan sumpah-serapah. Tetapi tak jarang, angkringan jadi ajang diskusi amat serius.

Angkringan bukan lagi sebagai tempat makan melainkan tempat nongkrong, tempat berbagi, sumber inspirasi, bahkan bisa juga sebagai tempat refreshing. Jika tidak, mana tahan duduk sampai lima jam hanya ditemani segelas teh panas yang sudah dingin dan tempe goreng yang mulai keras. Angkringan adalah ruang bersama, yang merangkai komunitas dari berbagai latar belakang. Jika Yogya adalah Indonesia mini, angkringan adalah Yogya mini!

Kini, angkringan bukan lagi milik mahasiswa atau orang-orang yang berkantong "cekak", namun mulai jadi sebuah life style baru. Rasanya belum ke Yogya kalau belum merasakan bagaimana makan di angkringan, terlebih lagi orang Yogya merasa belum afdol sebelum ikutan "ngangkring". Fenomena ini misalnya, bisa dilihat dari banyaknya mobil dan motor yang berjajar di depan angkringan Lik Man, tiap malam.

ANGKRINGAN, yang terkesan pinggiran, telah menjadi penanda kehidupan malam di Yogyakarta. Di sana bermula ide-ide segar, konsep-konsep lawakan beberapa pelawak terkenal di Yogyakarta, tempat aksi demonstrasi direncanakan, tempat munculnya ide skripsi dan penelitian, tempat meramal nomor buntut, diskusi politik, maupun sekadar ngobrol ngalor-ngidul, atau gojeg kere khas Yogyakarta.

Para pedagang angkringan bukan hanya sebagai penjaja, tetapi juga teman ngobrol bagi pembeli. Minimal, mereka menjadi saksi dan pendengar yang baik. Hubungan pembeli dan penjaja ini, lebih dari hubungan ekonomi, tetapi hubungan pertemanan. Tak heran, jika semua penjaja angkringan dipanggil dengan sebutan akrab Lik (paman) oleh para pelanggannya. Sebut saja nama Lik Man, Lik Dul, Lik Doyo, Lik Min, Lik Har, dan masih banyak lagi lik-lik lain yang akrab dengan kehidupan malam di Yogyakarta.

Para pembeli di angkringan adalah para langganan dari berbagai kalangan, yaitu mahasiswa, tukang becak, wartawan, para penjaja cinta, tukang ojek, seniman, karyawan kantoran, bahkan dosen-dosen dan anggota dewan.

Masing-masing orang memiliki angkringan favorit. Menu, boleh sama, tetapi suasana akan memberi nuansa yang berbeda. Doyo (47), penjual angkringan yang mangkal di selatan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan, "Banyak pelanggan yang sudah meninggalkan Yogyakarta selalu ngangkring di tempat saya jika kebetulan sedang ke Yogya."

Tak heran, ketika Peraturan Daerah (Perda) Nomor 26 Tahun 2002 tentang Penertiban Pedagang Kaki Lima, dan angkringan di sisi barat Jalan Malioboro Yogya akhirnya digusur ke timur jalan, penjaja dan pelanggan angkringan meradang.

Di Fakultas Hukum (FH) UGM, Yogya, misalnya, para mahasiswa mengaku siap menentang jika angkringan milik Lik Tri yang mangkal di Kompleks FH UGM sejak satu setengah tahun lalu digusur pengurus fakultas. "Jika angkringan Lik Tri digusur, kami tidak bisa makan murah lagi dan mengutang lagi, dong. Tidak boleh, kami akan mempertahankan angkringan Lik Tri," kata Imam, mahasiswa semester enam FH UGM.

"Simbiose mutualisme"-hubungan saling menguntungkan-antara penjaja dan pelanggan seperti itu begitu nyata di tahun-tahun awal reformasi sekitar tahun 1998. Badai politik, ekonomi, dan sosial yang mengguncang seluruh sendi bangsa ini menjelang dan pascakejatuhan Presiden Soeharto, begitu nyata.

Ketika keadaan makin memburuk, dan Wisma Kagama UGM membuka warung murah seharga Rp 400 untuk sepiring nasi sayur, dan sepotong tahu atau tempe, itulah saat para mahasiswa dan masyarakat luas benar-benar menderita karena kelaparan. Warung murah itu bertahan lebih dari setahun, dan ribuan mahasiswa, penyapu jalan, tukang becak, sopir angkutan bus, tertolong oleh warung yang didirikan oleh anggota Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) itu.

Di luar UGM, puluhan warung nasi sayur berharga Rp 1.000 atau Rp 2.000, naik gengsi, karena serbuan kalangan pelajar dan mahasiswa. Lalu angkringan, mendadak sontak menemukan maknanya yang kian jelas. Rasa malu atau sungkan yang dulu ada, kini musnah, dan mahasiswa Yogya, umumnya tak canggung duduk jegang (naik ke kursi panjang), makan sego kucing. Dari sisi negatif, barangkali reformasi cuma menghasilkan kebangkrutan, yaitu selera angkringan. Apa boleh buat!

KEHEBATAN angkringan sebagai sebuah gerakan ekonomi rakyat bawah, sumbernya sebenarnya sama dengan manajemen modern layaknya perbankan, yaitu trust, kepercayaan. Dalam wacana para Lik tadi, trust bisa dilihat dari sistem ekonomi gotong royong berbasis kearifan lokal, yaitu tepo-seliro, dan biso rumongso (bisa menghayati perasaan orang lain).

Walaupun para pedagang angkringan biasanya diorganisir oleh seorang juragan, posisi juragan ternyata setara dengan pedagang. Juragan lebih mirip sebagai supervisi seperti dalam bisnis modern. Lik Parman, juragan angkringan di Kampung Blimbingsari, misalnya, jelas memiliki modal cukup besar. Namun, Lik Parman tak memonopoli seluruh kebutuhan dagangan anak buahnya, bahkan gerobak juga dimiliki oleh pedagang angkringan.

Nyatanya, Lik Parman hanya memungut uang sewa tempat tinggal sebesar Rp 500 per orang per hari. Ia menyediakan barang-barang untuk minuman dan rokok. Sedangkan, nasi bungkus, tempe, tahu goreng, jadah, sate usus, sate telur puyuh, kerupuk, cakar, mi, kacang goreng, dan berbagai penganan lain disediakan oleh tetangganya. Sedikitnya, setiap gerobak disuplai oleh 15 pemasok yang tidak memiliki hubungan ekonomi secara langsung dengan Parman.

"Biarlah, tetangga saya yang lain ikut kecipratan dengan rezeki angkringan. Tidak harus semuanya saya yang memonopoli," kata juragan angkringan yang pernah melayani katering karyawan di lima hotel besar di Yogyakarta ini.

Para pedagang kecil pemasok penganan juga menerapkan konsep berbagi. Seorang pembuat nasi bungkus dengan lauk teri, tidak akan membuat jenis makanan dengan lauk tempe yang telah dibuat oleh orang lain. Masing-masing punya batas, dan teritorial. Sistem ekonomi rakyat yang belum terumuskan sebagai teori ekonomi seperti ini, jelas berbeda dengan berbisnis di sebuah mal yang ketat dan keras aturan mainnya.

Wartiningsih (24), tetangga Parman yang menyuplai makanan angkringan, mengatakan, tiap hari dia bisa menyuplai makanan ke pedagang angkringan sebanyak 80 buah nasi bungkus, 50 buah tahu susur, 50 buah pisang goreng, dan 200 tempe goreng. Biaya pembuatan makanan itu Rp 50.000, dan keuntungan yang diperolehnya mencapai Rp 20.000.

Para pedagang angkringan kemudian menjualnya dengan keuntungan Rp 50 sampai Rp 100 per buah. Lik Dul (35), pedagang angkringan asal Cawas, Klaten, mengatakan, jarang ada pedagang yang membuat makanan dagangannya sendiri walaupun mereka sebenarnya bisa melakukannya. "Kalau bikin sendiri, risikonya besar. Kalau kita kulakan pada pedagang, jika tidak laku bisa dikembalikan. Masing-masing punya tugas sendiri. Saya butuh juragan dan penjual penganan, tetapi mereka butuh saya juga. Dengan begini saja, saya sudah untung Rp 20.000. Cukuplah keuntungan itu bagi saya," kata Lik Dul, menerangkan simbiosis tepo seliro, dan tidak rakus itu.

Kepercayaan dan keinginan untuk berbagi menjadi aturan tak tertulis dan konkret dalam bisnis angkringan. Kearifan kulural itu pula yang kemudian menyatukan juragan, penyuplai makanan, dan penjaja angkringan dalam sebuah bisnis yang saling menguntungkan. Adakalanya, "tatanan bisnis" ini berubah. Sang penjaja bisa menjadi juragan. Contohnya adalah Sukarman, juragan angkringan yang semula menjadi penjaja di tempat Lik Man. Demikian sebaliknya, sang juragan bisa menjadi penjaja, contohnya adalah Lik Tri yang kini berjualan di Fakultas Hukum UGM.

Hubungan pertemanan antara tiga pihak ini terasa sangat kental di tempat mangkal angkringan milik Parman. "Pedagang di sini tidak ada yang keluar, semuanya betah karena juragan baik sekali. Setoran kurang boleh diutang. Tidak membayar pun sebenarnya tidak masalah karena juragan tidak pernah menagih. Tetapi, ya, malu sendiri kan jika tidak bayar. Kami ini saling mempercayai, jika ada yang nakal, pasti akan dikucilkan. Bisa mati kalau kami tidak punya teman lagi," kata Doyo, yang mengaku sudah 14 tahun ikut Parman.

Mengapa kultur dan tatanan itu tetap lestari? "Kekerabatan, yaitu ikatan warga sekampung, bahkan bersaudara, dan di sisi lain kesadaran ’orang atau kelompok masyarakat yang kalah’, merupakan sebagian faktor yang menjadi kekuatan, mengapa pedagang angkringan bisa bertahan dan saling menopang dengan siasat budaya wong cilik mereka," begitu tulis Drs Agus Rahayu Slamet, mantan wartawan tabloid Kontan, dan kini stringer kantor berita AFP di Yogyakarta dalam skripsi kesarjanaannya dari Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra, UGM, tentang angkringan berjudul Siasat Wong Cilik Melalui Sektor Ekonomi Informasi-Studi Kasus Pedagang Warung "Hik" dari Kampung Sagan, Yogyakarta (1996). Agus, jelas salah satu pecandu berat angkringan Yogya!

DALAM napas hidup seperti itu, sayangnya, Pemerintah Kota Yogya dan Pemkab Sleman melihatnya secara stereotip. Pemkot Yogya dan Pamkab Sleman kini justru getol melakukan peminggiran (penggusuran) angkringan. Padahal, angkringan telah menjadi lahan nafkah hidup puluhan ribu orang, penopang kultur glenak-glenik speaking (rerasan, dan curhat) antara wong cilik, dan kaum muda Yogya. Yang rada berbau eksotik, angkringan boleh kita sebut penanda ruang kota Yogyakarta, bahkan bagian dari "memori kolektif" masyarakat paguyuban yang masih mengantongi nilai-nilai agraris itu, ndeso, itu.

Tentu, dari sisi seorang penata kota aliran kapitalistik, angkringan masuk dalam kategori ekonomi kaki lima yang bisa membuat kota jadi lusuh dan tak beraturan. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana menata ruang publik secara adil saja. Maka, menghilangkan dengan menggusur mereka dari ruang kota bukan saja melukai ingatan kolektif warga Yogya, tetapi juga ekspresi kapitalistik yang cenderung menindas dan mungkin monopolistik. Lalu, terasa ada ketidakadilan di sana.

Aldo Rossi, seorang urbanis, menegaskan, ingatan kolektif terhadap ruang bukanlah sekadar kenangan dari orang banyak terhadap suatu ruang atau penanda kota, melainkan lebih ke arah terbangunnya ikatan emosional dan spiritual. Karena faktor sejarah, ikatan emosional ini kemudian menjadi melembaga, menjadi komunitas angkringan.

Dalam konteks lain, di mana sistem ekonomi Indonesia nyatanya juga bermuka dua: menolak kapitalisme, tapi mempraktikkannya, sebenarnya kita sudah diwanti-wanti oleh Hernando de Soto untuk menentukan sikap dan sungguh-sungguh mengawal pilihan sikap itu. Dalam buku The Mystery of Capital: Why capitalism triumphs in the west and fails everywhere else (London, Bantam Press, 2000/2001), de Soto mengingatkan bagaimana menata hak-hak atas kekayaan yang selama ini liar merupakan cara yang paling manjur untuk menyukseskan pengembangan ekonomi. Ia secara global menganjurkan jalan keluar, mengubah seluruh kekayaan rakyat yang sleama ini menjadi kekayaan mati, menjadi kapital, jadi modal.

Nah, diskusi bisa kita lanjutkan di angkringan Lik Man, nanti malam sembari jegang menyeruput wedang. (K10/BSW/HRD)

Sumber: www.kompas.com

10 comments:

yuntriesta@yahoo.com said...

'sega angkringan?'
ga asing lagi denger nama itu, dab. Sama sama pernah tinggal di jogja jadi pasti gak mungkin kalo ga tau yang namanya 'sega' ini ya... apalagi sama tempe gorengnya yang imut dan amit amiiiit... kalo makan bisa banyak karena saking imutnya ukuran tempenya.
Jadi kangen jogja ya, dab?
Kapan yook ke jogja bareng bareng haehehe... ajak keluarga juga getuuuu

yuntriesta said...

dab...
test...

agusnrp@yahoo.com said...

ya, menikmati 'sega kucing' memang punya sensasi tersendiri. lebih dari sekedar kesederhanaan rasa maupun kemasan nasi bungkusnya, mkan sega kucing mampu melesatkan kita ke wilayah imaginasi lain tentang bagaimana bedanya jogja dari kota lain. seorang teman dari kanada juga tertarik bicara hal-hal macam gini. dia belajar antropologi di toronto univ, penelitian di malioboro tapi sekarang lagi balik ke negerinya buat cristmas. satu waktu mungkin kita bisa ketemu ngobrol-ngobrol dengan dia tentang hal-hal semacam ini, atau via email juga oke...

wobal said...

sego kucing enak lan bergizi...

Jiko said...

Salam Kenal...

www.jogjaclub.cjb.net
www.yogya-indonesia.blogspot.com

keling said...

lik man,lik parman,dan lik2 yang lain.........kalian adalah pejuang budaya jogja sejati!!!!"Angkringan never die"..semoga angkringan takkan punah ditelan jaman!!Merdeka..

gend..art said...

merdeka..dari angkringan ...kebangitan nasional indonesia..(jaman mulai berubah)

sidjoe said...

sudah waktunya budaya jawa yg hebat di kenalkan di jakarta hahaha!! biar ga di colong negara lain lagi..

sekarang kangen ku dah terobati di depok udah ada sego kucing. namanya warung nasi kucing hek solo, weleh-weleh suasananya kya di jl.slamet riyadi,solo mak nyos deh...!!

salam kenal konco-konco!!! merdeka

Ahmad Helmy said...

Angkringan dan Kota Pelajar
Angkringan dan perjuangan Pelajar
Angkringan dan Pelajar

tomy said...

Hidup Angkringan..........





.... Anak juragan angkringan di ngampilan jogja....